Asuhan Keperawatan Retensi Urin

Monday, November 17, 2014



1.        Pendahuluan
Urin merupakan hasil dari ekskresi manusia yang dihasilkan dari penyaringan darah yang dilakukan di ginjal. Urin normal berwarna kekuning-kuningan atau terang dan transparan.Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorbsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis.
Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos,urine terbentuk dalam ginjal dan dibuang dari tubuh lewat saluran. Urine terdiri dari 98% air dan yang lainnya terdiri dari pembentukan metabolisme nitrogen (urea, asam urat, kreatinin dan juga produk lain dari metabolisme protein. Urine biasanya bersifat kurang asam dengan pH antara 5 – 7. Urine yang sehat berat jenisnya berkisar 1.010 – 1.030, tergantung perbandingan larutan dengan air. Banyaknya urine yang dikeluarkan dalam 1 hari dari 1.200 – 1.500 cc (40 – 50 oz) (Ganong, 2001).
Dalam urin bisa terdapat amonia. Amonia adalah suatu produk yang dihasilkan ketika proses pencernaan protein. Hati memproduksi amonia yang berbahaya terutama jika fungsi hati juga tidak berjalan dengan baik.
Setiap menit akan mengalir sejumlah 1060 ml darah (1/5 cardic out put) menuju ke 2 ginjal melalui arteri renalis. Dari jumlah  tersebut darah yang akan kembali melalui vena renalis sejumlah 1059 ml sedangkan sisanya sebesar 1 ml akan keluar sebagai urin.
Proses       Miksi    (Rangsangan   Berkemih)
Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui serabut – serabut para simpatis. Kontraksi sfinger eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf – saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Bila terjadi kerusakan pada saraf – saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus – menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan).
2.        Pengertian
Retensi urine adalah ketidakmampuan untuk mengosongkan isi kandung kemih sepenuhnya selama proses pengeluaran urine. (Brunner and Suddarth. (2010).
Retensi urine adalah suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan tidak mempunyai kemampuan untuk mengosongkannya secara sempurna.Retensio urine adalah kesulitan miksi karena kegagalan urine dari fesika urinaria. (Kapita SelektaKedokteran).
Retensio urine adalah tertahannya urine di dalam kandung kemih, dapat terjadi secara akut maupun kronis. (Depkes RI Pusdiknakes, 1995).
3.        Etiologi
Adapun penyebab dari penyakit retensio urine adalah sebagai berikut:
a.Supra vesikal berupa kerusakan pada pusat miksi di medulla spinallis S2 S4 setinggi T12L1.Kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis baik sebagian ataupun seluruhnya, misalnya pada operasi miles dan mesenterasi pelvis, kelainan medulla spinalis, misalnya miningokel,tabes doraslis, atau spasmus sfinkter yang ditandai dengan rasa sakit yang hebat.
b.Vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, atoni pada pasien DM atau penyakit neurologist, divertikel yang besar.
c.Intravesikal berupa pembesaran prostate, kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil,tumor pada leher vesika, atau fimosis.
d.Dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran porstat, kelainan patologi urethra(infeksi, tumor, kalkulus), trauma, disfungsi neurogenik kandung kemih.
e.Beberapa obat mencakup preparat antikolinergik antispasmotik (atropine), preparatantidepressant antipsikotik (Fenotiazin), preparat antihistamin (Pseudoefedrin hidroklorida= Sudafed), preparat penyekat β adrenergic (Propanolol), preparat antihipertensi(hidralasin)
4.        Patofisiologi
Pada retensio urine, penderita tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai rasa sakit yanghebat di daerah suprapubik dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai mengejan. Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi, factor obat dan factor lainnya seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya.
Berdasarkan lokasi bisa dibagi menjadi supravesikal berupa kerusakan pusat miksi di medulla spinalsi menyebabkan kerusaan simpatis dan parasimpatis sebagian atau seluruhnya sehingga tidak terjadi koneksi dengan ototdetrusor yang mengakibatkan tidak adanya atau menurunnya relaksasi otot spinkter internal,vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, intravesikal berupa hipertrofi prostate, tumor atau kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil menyebabkan obstruksiurethra sehingga urine sisa meningkat dan terjadi dilatasi bladder kemudian distensia abdomen.
Factor obat dapat mempengaruhi proses BAK, menurunkan tekanan darah, menurunkan filtrasi glumerolus sehingga menyebabkan produksi urine menurun.
Factor lain berupa kecemasan, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya yang dapat meningkatkan tensi otot perut, peri anal, spinkter analeksterna  tidak dapat  relaksasi dengan baik.Dari semua factor di atas menyebabkan urine mengalir labat kemudian terjadi poliuriakarena pengosongan kandung kemih tidak efisien.
Selanjutnya terjadi distensi bladder dandistensi abdomen sehingga memerlukan tindakan, salah satunya berupa kateterisasi urethra.




5.        Tanda dan gejala
Adapun tanda dan gejala atau menifestasi klinis pada penyakit iniadalah sebagai berikut:
a.       Diawali dengan urine mengalir lambat.
b.      Kemudian terjadi poliuria yang makin lama menjadi parah karena pengosongan kandungkemih tidak efisien.
c.       Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih.
d.      Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri dan merasa ingin BAK.
e.       Pada retensi berat bisamencapai 2000 -3000 cc.
6.        Pemeriksaan diagnostik 
Adapun pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan pada retensio urine adalah sebagai berikut:
        Pemeriksaan specimen urine (Pengambilan: steril, random, midstream.
        Penagmbilan umum: pH, BJ, Kultur, Protein, Glukosa, Hb, KEton, Nitrit.
        Sistoscopi
        IVP.

7.        Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada retensio urine adalahsebagai berikut:
a.       Kateterisasi urethra.
b.      Dilatasi urethra dengan boudy.
c.       Drainagesuprapubi.
8.          Komplikasi
a.       Urolitiasis atau nefrolitiasis
b.      Pielonefritis
c.       Hydronefrosis
d.      Pendarahan
e.       Ekstravasasi urine
9.        Pengkajian
a.       Kaji kapan klien terakhir kali buang air kecil dan berapa banyak urin yang keluar.
b.      Kaji adanya nyeri pada daerah abdomen.
c.       Perkusi pada area supra pubik, apakah menghasilkan bunyi pekak yang menunjukkan distensi kandung kemih.
d.      Kaji pola nutrisi dan cairan.
10.        Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
a.       Gangguan pola eliminasi urin (Retensi urin) berhubungan dengan ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat, infeksi bladder, gangguan neurology, hilangnya tonus jaringan perianal, efek terapi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam masalah retensi urine dapat teratasi.
Kriteria hasil    : -   Berkemih dengan jumlah yang cukup
-          Tidak teraba distensi kandung kemih
Intervensi :
1)      Dorong pasien utnuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan.
R : Meminimalkan retensi urin dan distensi berlebihan pada kandung kemih.
2)      Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih.
R : Retensi urin meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan atas.
3)      Perkusi/palpasi area suprapubik
R: Distensi kandung kemih dapat dirasakan diarea suprapubik.
b.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi pada kandung kemih.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam masalah nyeri dapat teratasi.
Kriteria hasil : -   Menyatakan nyeri hilang / terkontrol
                       -   Menunjukkan rileks, istirahat dan peningkatan aktivitas dengan tepat
Intervensi :
1)      Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas nyeri.
R : Memberikan informasi untuk membantu dalam menetukan intervensi.
2)      Pertahankan tirah baring bila diindikasikan nyeri.
R : Tirah baring mungkin diperlukan pada awal selama fase retensi akut.
3)      Pasang kateter
R : untuk kelancaran drainase.
4)      Plester selang drainase pada paha dan kateter pada abdomen.
R : Mencegah penarikan kandung kemih dan erosi pertemuan penis-skrotal.
5)      Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi, contoh eperidin.
c.       Ansietas berhubungan dengan status kesehatan.
Tujuan:
-          Tampak rileks, menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.
-          Menunjukkan rentang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takutnya.
Intervensi:
1)      Berikan informasi tentang prosedur dan apa yang akan terjadi, contoh kateter, iritasi kandung kemih.
2)      Pertahankan perilaku nyata dalam melakukan prosedur atau menerima pasien.
3)      Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah / perasaan
d.      Resiko infeksi berhubungan dengan terpasangnya kateter urethra.
Tujuan:
Mencapai waktu penyembuhan dan tidak mengalami tanda infeksi.
Intervensi:
1)      Pertahankan system kateter steril, berikan perawatan kateter regular dengan sabun di sekitar sisi kateter.
2)      Awasi tanda tanda vital, perhatikan demam ringan, menggigil, nadi dan pernafasan cepat, gelisah.
3)      Observasi sekitar kateter suprapubik

Daftar Pustaka
Brunner and Suddarth. (2010). Text Book Of Medical Surgical Nursing 12th Edition. China : LWW.
Doenges, Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC. 







0 comments:

Post a Comment